Senin, 26 Oktober 2015

Memaknai Pengorbanan Alam Dengan Menjadi Konsumen Yang Bijak

Problematika Sawit di Tanah Hijau
Bayangkan jika kita memiliki sebuah tempat tinggal yang nyaman, keseharian yang penuh kebahagiaan karena semua kebutuhan kita tersedia disekitar kita. Namun ketika esok hari terbangun, tiba-tiba semua itu terenggut dari kita. Kita sulit melakukan apapun karena asap pekat kekuningan menghalangi penglihatan kita, mata ini tak sanggup lagi menangis saking perihnya, dan dada sangat sesak karena dipenuhi asap yang tak kunjung habis berdatangan.
Ilustrasi diatas bukanlah skenario sebuah film namun realita yang sedang terjadi di Indonesia. Bisa dibilang bukanlah realita karena kebakaran hutan telah terjadi sejak lama dan dewasa ini semakin parah. Sepanjang tahun 2015, tercatat lahan hutan yang terbakar mencapai 12 provinsi tersebar di Indonesia dengan pembakaran terluas berada di Riau mencapai 2.025,42 hektar. Provinsi lain yang juga turut terdampak yaitu: Kalimantan Barat (900,20 ha), Kalimantan Tengah (655,78 ha), Jawa Tengah (247,73 ha), Jawa Barat (231,85 ha), Kalimantan Selatan (185,70 ha), Sumatera Utara (146 ha), Sumatera Selatan (101,57), dan Jambi (92,50 ha). Bahkan akibat kondisi Indonesia yang sedang dilanda musim kemarau berkepanjangan, kebakaran telah merambah kawasan taman nasional dan pemukiman penduduk. Situasi yang menggambarkan, hutan sebagai paru-paru dunia sudah tak lagi relevan untuk Indonesia sebagai negara yang memiliki hutan hujan tropis terbanyak jika dibandingkan negara lain di dunia.

Api melahap bumi Kalimantan tanpa ampun


Kondisi udara Kalimantan yang berbahaya untuk batas wajar
Bencana kabut asap yang berulang, bahkan cenderung kian parah ini berdampak pada banyak sektor di Indonesia. Selain kerusakan lingkungan, bencana berdampak signifikan terhadap kesehatan masyarakat Indonesia. Sudah tak terhitung warga yang sesak napas karena menghirup asap setiap hari, terutama di Kalimantan dan Sumatera. Bahkan telah ada korban berjatuhan yang didominasi balita. Hingga kini, masyarakat awam masih mereka: siapa dalang yang ada dibalik bencana dahsyat ini?
Sawit adalah penyebabnya. Itu yang banyak diperbincangkan orang termasuk penulis, jika membahas mengapa kebakaran hutan bukannya membaik namun merajalela di negara dengan keanekaragaman hayati terbesar di dunia seperti Indonesia. Ya, hutan-hutan yang dilalap oleh si jago merah itu dibakar (garis bawah tebal: dibakar, bukan terbakar) oleh sekelompok orang tidak bertanggungjawab yang melakukan semua demi kepentingan pribadi.
Mengapa dibakar? Karena pembakaran lahan merupakan cara yang paling efektif, cepat dan murah untuk membuka perkebunan sawit yang menguntungkan. Pembakaran hutan juga ‘membuka lahan pekerjaan baru’ di kawasan terpencil yang luput dari pengawasan pemerintah, karena ‘bos besar’ yang berada dibalik kerajaan sawit ini kerap membayar orang untuk membakar hutan. Karena alasan ekonomi, apapun dilakukan dan bencana pun tak bisa lagi dihindarkan. Semakin murah biaya yang diperlukan untuk membakar sebuah lahan, keuntungan yang diperoleh si pemilik kebun sawit nantinya akan semakin besar.
Sebagai negara besar, hingga kini Indonesia menghadapi dilema yang pelik terkait tumbuhan penghasil minyak goreng ini. Tahukah kamu bahwa Indonesia merupakan produsen dan eksportir terbesar minyak sawit di seluruh dunia, selain Malaysia?[1] Tahun 2015, Indonesia telah memproduksi 31,5 metrik ton minyak sawit. Minyak sawit adalah minyak yang paling banyak digunakan di berbagai belahan dunia untuk beragam keperluan. Mayoritas kegiatan produksi memang dilakukan di negara tropis karena pertumbuhan pohon sawit membutuhkan suhu yang hangat, matahari dan cukup hujan agar produk yang dihasilkan maksimal. Efek negatif yang ditimbulkan dari kegiatan produksi sawit ini berhasil menetapkan Indonesia sebagai penghasil emisi gas rumah kaca terbesar di dunia saat ini, mengalahkan Amerika Serikat dan Cina yang selama ini digadang sebagai negara dengan polusi yang berbahaya karena banyaknya kegiatan produksi. Bahkan negara Barat menjuluki Indonesia sebagai penjahat lingkungan terbesar di abad 21.[2]

Bijak dalam Memaknai Alam
            Menghadapi fakta mengejutkan diatas berikut kerusakan krusial dalam berbagai sektor, kita tak sepenuhnya bisa menghakimi sawit dan lantas menganggapnya musuh terbesar dalam kehidupan. Karena hampir seluruh produk yang kita gunakan dalam keseharian kita melibatkan sawit didalamnya: bahan makanan, minyak goreng (sudah tentu), peralatan mandi, camilan yang kita konsumsi bahkan kosmetik pun mengandung sawit.
            Minyak sawit merupakan elemen vital dalam kehidupan manusia dan keberadaannya membutuhkan tanah subur agar bisa lestari. Dalam hal ini kontribusi Indonesia sebagai negara yang memiliki hutan luas sudah melebihi batas: hutan hancur, lahan dibakar, kehidupan satwa liar di habitatnya semakin tertekan untuk menimbulkan sawit kedalam kehidupan kita. Ketegasan pemerintah Indonesia menjadi pertanyaan banyak pihak karena dinilai lamban bahkan cenderung abai terhadap bencana asap yang sudah berlarut-larut selama puluhan tahun lamanya. Perizinan pembukaan lahan yang melebihi batas dan alih fungsi lahan gambut yang sangat masif kepada pihak luar menjadi faktor utama mengapa Indonesia sampai saat ini masih terbelit dalam bencana asap dan kebakaran hutan.

Mengerikan jika di masa mendatang generasi baru melihat makhluk luar biasa ini hanya di buku sejarah :')

            Sebagai manusia inilah saatnya kita menebus pengorbanan alam. Kita tak bisa terus berteriak kepada pemerintah tanpa melakukan suatu langkah yang berarti. Bukan berarti menghindari sawit dan melakukan langkah ekstrim, namun berubah menjadi sosok konsumen bijak yang arif dalam memaknai apa yang sudah alam berikan kepada kita. Salah satu cara yaitu dengan menggunakan produk sawit yang berkelanjutan. Berkelanjutan yaitu, mengiringi langkah kita dengan memakai produk dimana kelestarian lingkungan dapat dipertanggung jawabkan.
Dalam hal ini, kita sebagai manusia awam dapat merujuk pada RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil). RSPO merupakan organisasi yang terbentuk untuk menyatukan produsen sawit, pengolah, pedagang, organisasi sosial dalam mengembangkan standar global terhadap minyak sawit yang berkelanjutan. Kedepannya akan mengedukasi masyarakat luas agar menggunakan produk dalam keseharian hidup dimana mengandung sawit yang bertanggung jawab terhadap kelestarian lingkungan.

Jadikan sebagai pedoman dalam berbelanja produk yang ramah lingkungan

Jadilah pahlawan lingkungan dimulai dari diri sendiri

Sebagai anggota pendiri, WWF terus menunjukkan komitmennya dalam memperjuangkan edukasi masyarakat menggunakan produk dengan bahan sawit yang berkelanjutan, melalui program #BeliYangBaik . Program ini menjelaskan kepada masyarakat bahwa kita dapat turut andil melestarikan lingkungan dengan jeli membelanjakan kebutuhan sehari-hari dengan memakai produk yang kandungan sawitnya sudah tersertifikasi ramah lingkungan, yaitu yang sudah berlabel RSPO.[3]
Selain itu, komitmen kita menggunakan produk yang ramah dengan hutan dapat dilakukan dengan mengkonsumsi produk yang berlabel FSC (Forest Stewardship Council), sebuah organisasi nirlaba yang mengedukasi penggunaan produk berlabel ekolabel dan bertanggungjawab terhadap keseimbangan ekologi. Sertifikasi ini telah diakui di seluruh dunia dan juga didukung oleh organisasi lingkungan seperti WWF. Sejauh ini, terdapat 200 perusahaan di Indonesia yang berkomitmen untuk memiliki sertifikasi FSC yang ramah terhadap lingkungan.[4]

Label produk FSC yang bertanggung jawab terhadap kelestarian lingkungan.




Mulailah menjadi konsumen bijak dengan produk berlabel ramah hutan.

      Apa yang penulis jelaskan mungkin terdengar berlebihan dan merepotkan, terlebih harus membedakan produk ketika sedang berbelanja kebutuhan sehari-hari. Hal lain yaitu, mayoritas produk yang bersertifikasi adalah produk impor yang belum tentu dapat dijangkau oleh semua pihak. Tetapi, tanamkanlah keyakinan bahwa walaupun kita bukan orang yang berada dalam otoritas negara namun kita bisa melakukan sesuatu. Melakukan suatu langkah besar dimulai dengan lompatan kecil. Langkah kecil yang tak dapat menebus secara instan kerusakan lingkungan yang timbul akibat kebutuhan manusia Karena apa yang kita beli adalah apa yang kita dukung.


PS. Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis #BELIYANGBAIK : Sustainable Palm Oil, Gaya Hidup Konsumen Bijak.

[1] Sumber: dilansir dari http://www.indonesia-investments.com/business/commodities/palm-oil/item166 “Palm Oil” pada 26 Oktober 2015.
[2] Dilansir dari artikel ‘Erik Meijaard: Indonesia’s Fire Crisis – The Biggest Environmental Crime of the 21st Century’
[3] Rincian produk yang berlabel ramah hutan dapat dilihat pada http://www.rspo.org/trademark/trademark-products-gallery.
[4] Sumber: artikel Baru Ada 200 Perusahaan Ramah Lingkungan di Indonesia dilansir dari website Forum Hijau Indonesia http://forumhijau.com/baru-ada-200-perusahaan-ramah-lingkungan-di-indonesia/.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar