Kamis, 22 Oktober 2015

Mewujudkan Pernikahan Impian Untuk Masa Depan Yang Cerah

Sejak masih berseragam putih biru, saya memiliki suatu impian yang bagi orang lain tidak masuk akal. Saya ingin memiliki seorang kekasih yang terpaut 5-10 tahun lebih tua dari saya. Bayangkan bagaimana hal itu terdengar tidak rasional karena saat itu saya berada dalam fase dimana anak SMP harusnya masih bermain-main dan belum memikirkan masa depan yang masih entah kapan terjadi. Tetapi itulah realitanya karena impian itu berikutnya menjadi syarat mutlak saya dalam mencari seorang kekasih, bagaimana sosoknya, fisik, siapa keluarganya yang paling utama dia harus jauh lebih tua dari saya.

Bisa dibilang saya memiliki alasan khusus mengapa saya menjadi sedemikian idealis. Saya berasal dari latar belakang orangtua yang kurang harmoni sejak saya lahir, sehingga saya membutuhkan sosok lain diluar orangtua yang dewasa dan dapat mebimbing saya ke segala hal yang baik. Saya juga memiliki keyakinan, laki-laki yang jauh lebih tua akan menciptakan hubungan yang menyenangkan dan lebih kuat mempertahankan komitmen dibandingkan lelaki sepantaran atau bahkan lebih muda. Alasan yang tak kalah penting untuk dipertimbangkan, laki-laki yang berusia jauh dari wanita memiliki kondisi finansial yang sudah matang.

Hal itu tak sepenuhnya salah karena saat ini saya menjalin hubungan dengan lelaki yang terpaut 7 tahun lebih tua dari saya. Dan keyakinan yang saya pendam dari zaman sekolah terbukti; hubungan berjalan sangat menyenangkan, ia lebih menghargai komitmen dalam hubungan, dan kekasih saya memiliki kalender masa depan. Memang, dari awal memutuskan untuk menjalin hubungan pernikahan sudah menjadi perbincangan. Kini, kami sedang merancang bagaimana menciptakan sebuah pernikahan yang selalu dapat dikenang namun tidak menyulitkan kehidupan ekonomi kedepannya. Hal-hal berikut ini dapat menjadi pertimbangan untuk menghelat pernikahan yang diidam-idamkan.

·         1. Menyiapkan dana pernikahan
Terlepas dari pernikahan yang ingin diadakan nantinya; mewah maupun sederhana; mempersiapkan anggaran pernikahan dari jauh hari merupakan hal utama yang harus dilakukan. Dilansir dari pengalaman teman dan saudara yang sudah lebih dulu melangkah ke jenjang pernikahan, dana mencakup 2 aspek: dana utama (sewa gedung resepsi, seragam pengantin bergantung budaya mempelai, makanan, dan segala keperluan vital lain) serta dana darurat. Memang sebagai pasangan yang akan berbahagia kita menghindari terjadi hal-hal diluar dugaan. Namun menganggarkan dana tak terduga tidak sepenuhnya salah. Karena saat ini saya belum mendapat pekerjaan pasti (masih terhitung freelance), saya dan kekasih mengurangi sementara intensitas traveling kami. Ya, kami pasangan petualang. Jika ingin jalan-jalan berdua selalu terlontar: “tunda dulu ya travelingnya. Uangnya ditimbun aja untuk menikah dan bulan madu impian”. Berasa gimana hati ini, mencapai impian memang membutuhkan pernikahan bukan?

·         2. Menyiapkan konsep pernikahan yang diinginkan
Karena kami adalah pasangan yang menyukai perjalanan dan petualangan, kami menginginkan konsep yang tak biasa. Bahkan saya menginginkan undangan pernikahan berbentuk boarding pass dan mengimpikan kue pengantin dengan dekorasi pasangan sedang membawa tas ransel.

Konsep merupakan hal yang penting karena tentu pasangan menginginkan pernikahan yang tak terlupakan. Untuk menekan anggaran, manfaatkan kerabat dekat dan teman-teman untuk membantu. Misal: kerahkan teman-teman seperjuangan masa sekolah untuk menjadi ‘wedding organizer’, sahabat yang jago fotografi untuk sesi dokumentasi, saudara yang pintar desain untuk dekorasi pelaminan (useful untuk yang ingin konsep outdoor seperti aku). Biaya yang nantinya berlebih bisa dialokasikan untuk keperluan yang lain.

·         3. Menghindari Hutang
Prinsip ini merupakan isu yang sensitif. Saya dan kekasih sudah memiliki komitmen awal untuk tidak menimbun hutang demi menginginkan pernikahan idaman yang sempurna. Karena adanya hutang biasanya menjadi sandungan kecil, bahkan menjadi besar dalam permasalahan rumah tangga di masa yang akan datang.

Bersikap bijak juga tak kalah penting dalam menggunakan kartu kredit, atau jika ingin mencicil sesuatu yang tidak memungkinkan menggunakan dana cash. Cerdas dalam menahan diri dan memanage keuangan untuk perjalanan masa depan akan menciptakan pernikahan impian yang sesungguhnya.
·      
4. Urgensi Investasi
Untuk pasangan muda yang baru akan melangkah kepada jenjang berikutnya, mungkin belum terpikirkan apa urgensinya investasi? Investasi bukan hanya berbentuk benda seperti emas atau rumah tinggal permanen, namun bisa berupa deposito untuk simpanan jika sudah memiliki anak dan simpanan lainnya. 

Untuk rujukan investasi, Sunlife Financial Indonesia dapat menjadi pilihan untuk menetapkan bentuk investasi seperti apa yang kita butuhkan untuk masa akan datang. Dalam kiprahnya sebagai perusahaan asuransi terkemuka, Sunlife Financial Indonesia menyediakan beragam kebutuhan seperti: Proteksi, Simpanan dan Investasi, Riders, Bancassurance dan Syariah. Produk layanan ini menyediakan investasi asuransi jiwa, kebutuhan pendidikan anak di masa depan, bahkan kebutuhan menabung untuk pergi naik haji dalam produk asuransi Sunlife yang berprinsip Syariah. Sekarang ini saya dan kekasih sudah banyak membicarakan ketertarikan kami menggunakan asurasi Sunlife yang menyediakan beragam produk menjanjikan, selain tunjangan yang didapatkan kekasih saya dari kantor tentu akan melegakan jika ada asuransi tambahan untuk menunjang kehidupan yang lebih baik.

P.S Tulisan ini diikutsertakan dalam Kompetisi Menulis Blogger Sun Anugerah Caraka (SAC) 2015 "Wujudkan Masa Depan Cerah Dengan Perencanaan Keuangan Yang Lebih Baik"

Senin, 24 Agustus 2015

Perjanan Membuahkan Pertemuan Yang Menyenangkan

There are no strangers in here, just friends you haven’t met.. – Roald Dahl

Pepatah diatas adalah quote yang aku suka banget. Sekaligus untuk menghadapi realita bahwa pergi sendirian di Indonesia itu masih merupakan suatu hal yang aneh. Ke kafe sendirian aja dapat tatapan penuh pertanyaan dari orang sekitar, apalagi pergi traveling ke tempat yang jauh dan belum pernah kita kunjungin sebelumnya.

Sebulan lalu waktu lagi asyik berselancar di dunia maya, tiba-tiba aku teriak kegirangan karena ada tawaran menarik traveling ke Bromo. Pas melihat rangkaian tempat yang dikunjungi dan harga yang ditawarkan, tanpa pikir panjang langsung menghubungi agen travel yang bersangkutan. Apalagi pergi ke Bromo melihat matahari terbit dan merasakan sejuknya udara Batu, Malang sudah lumayan lama bertengger di daftar destinasi impian. Ketika mengurus birokrasi (perizinan ke orangtua), sudah tentu pertanyaan yang pertama kali muncul bukan mau pergi kemana tetapi: perginya sama siapa? Sendirian? Pertanyaan yang selalu membuatku menghela napas keheranan. Apa yang salah dengan bepergian sendirian?

Aku selalu memiliki keyakinan, walaupun kita melakukan perjalanan solo kita tidak akan pernah benar-benar sendirian. Dunia ini dihuni 7 miliar manusia, mana mungkin tidak bertemu siapapun di perjalanan. Kalimat sakti yang selalu aku tanamkan sejak traveling jadi impianku di bangku SMA. Seperti pepatah Roald Dahl diatas, didunia ini tidak ada orang yang sungguh asing. Orang asing yang nantinya kita temui di perjalanan adalah teman yang belum pernah kita temui sebelumnya.

Perjalanan, keluar dari zona nyaman
Hal ini terbukti ketika aku dan temanku tiba di Stasiun Kereta Api Senen, Jakarta Pusat yang merupakan tempat pertemuan agen travel yang aku ikuti yang nantinya akan melewati perjalanan ke Malang bersama-sama. Sedang termenung sendirian karena udara diluar yang cukup panas menyengat, satu persatu teman grup yang juga ikut ke Malang menghampiri. Percakapan segera bergulir, karena bagaimanapun aku akan bersama mereka selama 4 hari 3 malam. Benar bukan, kita tidak benar-benar sendiri dalam perjalanan yang kita lalui dalam kehidupan apapun bentuknya.

17 jam menempuh perjalanan di kereta api kelas ekonomi seperti tidak berasa karena sepanjang itu pula aku bertukar cerita dengan banyak sekali orang baru. Inilah esensi yang menjadi kecintaanku kala traveling, mengalahkan foto-foto bagus atau memamerkan perjalanan ke media sosial. Bahwa sesungguhnya perjalanan bukan semata destinasi yang dituju, namun perjalanan itu sendiri. Bertemu orang baru adalah hal yang tak bisa ditukar dengan uang berapapun jumlahnya.

Di Batu, Malang grup perjalanan kami disambut cuaca yang sungguh menyenangkan. Sangat jauh berbeda dengan Jakarta yang penuh polusi dan terik menimbulkan peluh di badan. Hal ini sangat berpengaruh pada pembawaan suasana hati. Aku sangat menikmati perjalanan yang sedang berlangsung, mengunjungi tempat baru yang selama ini hanya kulihat di majalah perjalanan, dan tentunya bertemu dengan sekelompok orang yang memiliki hobi sama. Sejenak aku lupa dengan sumpeknya Jakarta dan permasalahan yang ada di rumah. Semuanya meluap bersama dinginnya udara kota Batu.

Setelah 17 jam di perjalanan, kami tiba di kota Batu, Malang

Mengabadikan momen sebelum berkeliling Museum Angkut, museum menakjubkan di kota Malang

Setelah mengelilingi kota Batu dan berkunjung ke beberapa tempat menarik, kami semua tiba pada bintang utama dalam perjalanan ini: mengejar matahari terbit ke Gunung Bromo sekaligus merayakan ulang tahun Indonesia yang ke-70. Memang kelompok travel kami tidak menggelar upacara bendera secara resmi, namun kami tampaknya memiliki metode sendiri untuk itu. Ketika sedang berada di alam, tak harus berpakaian formal seperti perhelatan di Istana Negara bukan?

Bromo menyambut kami dengan pelukannya yang bersahabat

Bersama mengibarkan sang Saka Merah Putih di Puncak Kawah Bromo. Dirgahayu ke-70 tahun, Indonesia!! Tetaplah berjaya!!

Perjalanan kali ini meninggalkan kesan yang amat mendalam. Selain bertemu dengan ‘orang asing’ baru yang menjelma menjadi teman karib, pertemanan itu bahkan berlanjut sampai kami pulang ke Jakarta. Bahkan selama masih berputar di Malang, rencana trip bersama lagi sudah mengalir kembali. Seakan lupa saat itu kami masih dalam perjalanan, belum kembali ke kota asal masing-masing.


Melangkahlah, teman. Jangan ragu untuk meninggalkan zona nyaman. Melakukan perjalanan, sendiri atau beramai-ramai merupakan sebuah kegiatan yang asyik untuk dilakukan. Ketika perjalanan itulah kita semua bisa menyadari bahwa kita hanya gumpalan kecil dari alam semesta. Dalam perjalanan juga, kita bisa mengenal karakter asli seseorang. Karena di alam, semua tampak asli seperti lukisan indah yang Tuhan ciptakan di permukaan bumi ini. Sama indahnya dengan kebersamaan yang didapat dalam perjalanan.

Selamat Ulang Tahun Indonesia tercinta!!

P.S Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Kompas Travel Fair 2015.

Sabtu, 22 Agustus 2015

17 Agustus 2015: Jangan Lupa Berlibur Ke Luar Negeri

Q: Hobi traveling ya? Wah sama kita. Udah kemana aja?
A: Baru di Indonesia aja kok, belum pelesir ke negara orang
Q: Iyalah. Indonesia itu udah bagus, gak perlu kita pergi ke luar negeri. Semuanya ada disini ngapain jauh-jauh ke benua orang?

Semburat mentari menyeruak dari Bukit Petigen, Bromo. Kantuk hilang seketika :0

Percakapan yang aku yakin sering terjadi di antara orang Indonesia. Entah untuk keberapa kalinya terjadi lagi beberapa hari yang lalu saat aku sedang berada di Kota Malang, mempersiapkan diri untuk mengejar sunrise di Gunung Bromo. Kala itu pukul setengah 2 pagi; aku, teman grup travelku dan pejalan lain yang memiliki niat sama, terlihat memenuhi jalan di depan homestay yang aku inapi.

Seketika pertanyaan yang terdengar singkat itu memenuhi kepalaku. Aku merenung, bahkan ketika sudah berada diatas mobil 4wd yang akan membawa rombongan menuju Taman Nasional Bromo, Tengger dan Semeru. Aku bahkan sudah tak peduli dengan udara minus yang menemani perjalananku membelah Desa Tumpang. Yang kupikirkan adalah, apakah iya memupuk nasionalisme untuk negara tercinta itu berarti tidak boleh bepergian ke luar negeri? Sebesar itukah rasa inferior Indonesia sebagai negara yang besar?

Aku tidak menyalahkan jika banyak masyarakat Indonesia yang berpendapat seperti itu. Indonesia adalah negara besar, seonggok surga yang sukses membuat orang asing berdecak kagum. Bukan, bukan kagum. Lebih tepatnya iri. Iri dengan keindahan yang terbentang dari Sabang sampai Merauke hingga membuat mereka rela menyeberang ribuan kilometer untuk mereguk keindahan yang tersedia disini.

Aku bukanlah orang yang nasionalis, karena aku; begitu juga banyak orang Indonesia lain diluar sana; memiliki cara sendiri untuk mencintai tanah kelahirannya. Tahun 2015 merupakan era dimana banyak orang Indonesia mewujudkan rasa nasionalismenya dengan melakukan perjalanan, yang digadang sebagai metode efektif untuk menebalkan kadar nasionalisme dalam hidup. Aku senang melakukan perjalanan, bukan untuk mengikuti tren; tapi untuk mengetuk pintu hati: hei, dunia ini sangatlah luas. Waktumu akan terbuang jika hanya berdiam di satu tempat saja.

Take your step and see the world. Indonesia is dangerously beautiful!

Kembali pada pertanyaan awal, nasionalisme bukan berarti sebagai bangsa besar kita lantas menutup diri pada budaya luar. Menurut penulis, justru melancong ke luar negeri merupakan strategi yang bagus untuk perlahan menumbuhkan kadar nasionalisme itu sendiri. Tak bisa disangkal, kita sebagai warga negara Indonesia turut menumpuk iri pada negara luar: transportasi umum yang sudah jauh lebih maju, pergi kemanapun praktis, manajemen pariwisata yang tertata, masyarakatnya yang sadar akan kebersihan, diikuti pertanyaan: kapan ya kita bisa seperti mereka?

Pertanyaan tersebut dapat terjawab dengan melakukan perjalanan ke luar negeri. Selain membuka wawasan kita tentang realitas dunia, memperkaya diri dengan kebudayaan yang beragam, sembari berlibur kita dapat mempelajari bagaimana pemerintah negara yang kita kunjungi tersebut menata turisme mereka. Memperhatikan bagaimana warga asing membuang sampah dan bersikap terhadap peraturan yang berlaku di negara mereka, kiranya dapat kita jadikan riset kecil-kecilan untuk kemudian kita kembangkan ketika pulang ke Indonesia. Mengembangkan pariwisata Indonesia=membantu pemerintah Indonesia.

Sekali lagi, nasionalisme bukan perkara destinasi kawan. Dalam atau luar negeri hanyalah rute yang akan kita lalui, yang paling penting adalah apa yang kita dapatkan dalam perjalanan itu yang kedepannya kita jadikan contoh di negara sendiri. Jangan menunggu negara, kita bisa mengembangkan pariwisata dimulai dengan cara kita sendiri. Jangan bandingkan Indonesia dengan negara lain, karena setiap negara memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Jangan larut dalam bersenang-senang, promosikan keindahan Indonesia kepada masyarakat dunia. Yuk, sisihkan waktumu untuk berlibur ke luar negeri, perlahan nasionalisme akan mengikuti.
*****
“kak, udah sampai. Jangan bengong. Ayo turun, masa udah jauh kesini ketinggalan sunrise. Kita juga kan mau upacara bendera kecil-kecilan, kibarin bendera di puncak kawah kak!!”, celotehan teman dalam rombonganku membuyarkan lamunanku yang sedari tadi melanglang buana. Aku sudah tiba di pos penanjakan yang ramai oleh para pendaki yang memiliki kesamaan tujuan: menyapa matahari pagi serta merayakan ulangtahun Indonesia.

Ah. Hari ini Indonesia kian bertambah tua. 70 tahun sudah aku tinggal di negara yang penuh lika liku dan dinamika permasalahan mendera. Walaupun begitu, aku cinta Indonesia. Cinta yang masih terus dipupuk, meskipun tak ada pernik merah putih di pelosok kamarku. Aku cinta negara ini, dengan caraku yang belum tentu orang lain dapat memahami. Dan tentu saja, mimpiku menapakkan kaki ke tanah asing tetap tersusun rapi dalam buku impian yang pada waktunya nanti kuyakin akan terwujud. Nasionalisme, itu ada dalam hatiku yang saat ini siap untuk merekam lukisan indah Tuhan lain terbentang didepan mata: Gunung Bromo.

Dirgahayu ke-70 Indonesia!

Kabut bercampur debu turut menyambut bertambahnya usia Indonesia tercinta. Dear Bromo, see you next time!!

P.S Tulisan ini disertakan dalam lomba "Jalan-Jalan Nasionalisme" yang diadakan Travel On Wego Indonesia.

Senin, 10 Agustus 2015

Menjadi #LebihBaik Setelah Lebaran

Usai sudah ibadah puasa yang telah dijalankan selama satu bulan lamanya. Ketika takbir berkumandang di penghujung bulan Ramadhan, kala itulah umat muslim di Indonesia bahkan seluruh dunia mempersiapkan diri untuk merayakan Hari Raya Idul Fitri atau kerap disebut lebaran. Di hari lebaran ini seluruh manusia dilahirkan kembali layaknya bayi yang masih suci.

Sebagai negara dengan pemeluk Islam terbesar, Indonesia banyak menelurkan tradisi yang erat kaitannya dengan aktivitas yang dilakukan bersama-sama. Tampaknya tak berlebihan jika Indonesia kerap dicap sebagai bangsa yang senang berkumpul, sangat sesuai dengan istilah "makan gak makan yang penting kumpul". Salah satunya halal bihalal.

Bagaimana sebenarnya awal mula terciptanya halal bihalal? Konon, tradisi halal bihalal dipelopori oleh KGPAA Mangkunegara I atau lebih dikenal dengan Pangeran Sambernyawa. Dengan tujuan efisiensi waktu dan biaya; setelah selesai melaksanakan shalat Iedul Fitri, Pangeran mengumpulkan para punggawa dan prajuritnya di balai istana untuk kemudian melakukan sungkeman kepada raja dan permaisuri. Kegiatan Pangeran ini kemudian ditiru oleh banyak organisasi Islam dan pemerintah dengan istilah halal bihalal yang kedepannya tak hanya umat Islam saja namun mencakup berbagai kalangan agama. Walaupun dikenal di negara yang penduduknya beragama Islam namun ada perbedaan mencolok antara halal bihalal di Indonesia dengan negara Timur Tengah. Ternyata di Timur Tengah, setelah shalat Ied tak ada tradisi bermaafan massal seperti yang lumrah dilakukan di Indonesia.

Selain itu, tradisi halal bihalal kala lebaran merupakan percampuran budaya Jawa dengan Islam. Umat Islam di daerah Jawa (yang umumnya masih sangat kuat tradisinya) melakukan sungkeman kepada orang tua (yang lebih utama adalah orang yang dituakan dalam keluarga) yang bertujuan lambang hormat dan permohonan maaf atas kesalahan-kesalahan yang dilakukan.

Penulis merayakan hari raya lebaran memang sudah tidak terlalu konvensional mengingat penulis dan keluarga besar bukan berasal dari suku Jawa, dengan kata lain tradisi tetap dijunjung tinggi namun tidak sebesar era dulu. Pasca melaksanakan shalat ied, meminta maaf kepada orang tua dan kerabat dekat dilakukan dengan cara modern. Kemudian halal bihalal ke rumah saudara-saudara yang selama ini jarang bertemu karena kesibukan masing-masing. Sungkem tidak lagi ada karena dalam keluarga kerabat sesepuh (yang dituakan) telah banyak berpulang. Yang masih bertahan hingga kini yaitu mencicipi kue manis ketika berkunjung ke rumah kerabat, nyekar ke makam kerabat dan berbagi angpau (THR) J


Daging Pedas buatan tante dan mama gak akan ditolak. Enak!!

Selain silaturahmi, hunting kue enak dirumah kerabat yang dikunjungi wajib hukumnya :9

There is always space in my tummy for sweet stuff.

Terlepas dari makanan enak yang gak pernah luput di hari raya lebaran, yang paling utama adalah makna lebaran itu sendiri. Lebaran selain merupakan momen suci bagi umat Islam, juga merupakan momen dimana kita menyampaikan maaf kita untuk kesalahan yang luput dari kesadaran kita selama ini.

Yang perlu digarisbawahi adalah, sebagai manusia yang lahir untuk bersosialisasi dengan sesamanya tentu tak pernah lepas dari kesalahan. Kemungkinan kita menyakiti hati seseorang dapat muncul kapan saja tak hanya kala bulan Ramadhan. Namun karena tradisi halal bihalal, berkumpul bersama sudah melekar dengan lebaran tak sedikit orang yang menunggu meminta maaf hingga hari raya lebaran tiba. Seperti ungkapan terkenal, “memaafkan urusannya waktu lebaran” sehingga “mohon maaf lahir dan batin” lebih seperti kewajiban saat lebaran. Padahal hidup kita akan menjadi #lebihbaik dan tenang saat hati kita terbebas dari kebencian dengan meminta maaf dan dimaafkan oleh orang lain. Seperti hadits berikut ini.

"Barang siapa melakukan kezhaliman kepada saudaranya, hendaklah meminta dihalalkan (dimaafkan) darinya; karena di sana (akhirat) tidak ada lagi perhitungan dinar dan dirham, sebelum kebaikannya diberikan kepada saudaranya, dan jika ia tidak punya kebaikan lagi, maka keburukan saudaranya itu akan diambil dan diberikan kepadanya”. (HR. al-Bukhari nomor 6.169)


Selamat Hari Raya Idul Fitri 1436 H. Mari jadikan hidup kita #lebihbaik dengan saling memaafkan

P.S Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Blog Competition Lebaran #LEBIHBAIK Sunlife.

Kamis, 02 Juli 2015

Menghindari Dehidrasi Saat Berpuasa

Manfaat Air Dalam Kehidupan
Air merupakan unsur vital dalam kehidupan karena 60% cairan yang ada dalam tubuh manusia terdiri dari air. Sebagai komponen penting, air memiliki fungsi beragam pada tubuh manusia diantaranya:[1] 1. Menghilangkan rasa haus; 2. Melindungi keseimbangan cairan dalam tubuh; 3. Meningkatkan energi; 4. Membantu pengeluaran racun dan bakteri yang merugikan tubuh; 5. Menjaga fungsi ginjal; 6. Meningkatkan fungsi otak, 7. Mengobati penyakit yang berbahaya serta banyak fungsi penting lainnya. Bahkan air putih dapat mengontrol jumlah kalori dalam tubuh sehingga menurunkan berat badan yang berlebih.
Walaupun air putih bermanfaat bagi kesehatan tubuh, kenyataannya manusia hanya mengonsumsi air putih sesuai dengan kebutuhan; bahkan cenderung kurang dari yang semestinya. Hal itu kian signifikan disaat bulan Ramadhan, dimana kita harus menahan lapar dan haus selama satu hari penuh sehingga rentan akan timbulnya dehidrasi dan efek samping lainnya. Saat waktunya berbuka puasa, mayoritas orang lebih memilih minuman yang memiliki rasa dibandingkan air putih. Padahal amat penting minum air putih untuk mengembalikan cairan yang hilang kala berpuasa.
Diluar bulan Ramadhan, ketika sedang menjalani aktivitas normal mayoritas orang Indonesia malas mengonsumsi air putih. Hal ini dibuktikan dengan survei tahun 2010 oleh The Indonesian Hydration Regional Study (THIRST) terhadap 1.200 sampel;[2] yang menunjukkan bahwa 41,6% atau setengah dari sampel yang diteliti mengalami kekurangan cairan atau dehidrasi ringan. Ironisnya, kondisi tersebut lebih banyak dialami oleh remaja (49,5%) dibandingkan orang dewasa (42,5%) yang notabene remaja membutuhkan lebih banyak zat gizi karena sedang dalam masa pertumbuhan.
Padahal asupan air yang tidak cukup dapat menimbulkan dampak serius bagi kesehatan tubuh. Dalam jangka pendek dapat menyebabkan seseorang yang mengalami dehidrasi menjadi gampang lelah dan kesulitan berpikir, jika sudah parah dapat mengakibatkan penyakit serius seperti ginjal yang tak berfungsi dengan baik dan tekanan darah melampaui batas. Bahkan jika tingkat dehidrasi tinggi seseorang dapat mengalami kehilangan dahaga, dengan kata lain tidak merasa haus sedikitpun. Tentunya dehidrasi tidak boleh dianggap remeh.
Menanggapi fenomena tersebut; Danone AQUA sebagai pelopor air minum kemasan di Indonesia menunjukkan komitmennya mewujudkan Indonesia yang lebih sehat dengan menggalakkan kampanye #AdaAQUA yang selain bertujuan untuk mempromosikan merek Aqua sebagai minuman sehat, juga bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat agar menyadari pentingnya mengonsumsi air putih dalam kehidupan sehari-hari.

Sehat Berpuasa Dengan Kampanye Aqua 2+4+2
     Memasuki bulan Ramadhan, Aqua meluncurkan sebuah gerakan yaitu pola 2+4+2 yaitu penyuluhan terhadap masyarakat agar mencukupi asupan air 8 gelas sehari dalam berpuasa. Pola ini berangkat dari fakta mengejutkan bahwa masyarakat Indonesia terutama generasi muda rentan terhadap dehidrasi ringan kronis, serta kurang menyadari seperti apa gejala yang dialami ketika terkena dehidrasi dan dampak apa yang akan timbul. Dehidrasi dianggap sebagai masalah yang cenderung diabaikan di Indonesia, orang yang sudah tenggelam dalam kesibukan enggan untuk minum air putih.
          Pola kampanye minum air putih yang dipelopori oleh Aqua yaitu sebagai berikut.
  • Ketika berbuka puasa diawali dengan minum 1 gelas air putih, setelah makan hidangan yang tersaji minum 1 gelas air putih kembali.
  • Di malam hari, dianjurkan minum 4 gelas air putih hingga menjelang waktu tidur. Rinciannya yaitu 1 gelas air putih sebelum menyantap makan malam, 2 gelas air putih setelah selesai makan kemudian 1 gelas sebelum tidur.
  • Waktu santap sahur, minum 2 gelas air putih.
   Ketika menjalani ibadah puasa, konsumsi air putih hanya bisa dilakukan ketika waktu berbuka telah tiba. Tentunya pola diatas bagus untuk diterapkan supaya dehidrasi ringan dapat dicegah. Selain itu juga menghindari bibir yang kering karena kurangnya air minum.
   Kiat lain supaya sehat dan bugar kala berpuasa yaitu meminimalisir konsumsi teh, kopi serta minuman lain yang memiliki rasa. Hal ini disebabkan karena kopi dan minuman manis menyebabkan timbulnya rasa haus yang lebih cepat dibandingkan jika kita mengonsumsi air putih. Selain itu konsumsi makanan berbuka yang sehat seperti buah-buahan dan makanan berkuah untuk hidangan berat, tentunya dengan pola minum air putih Aqua. Seperti telah dijelaskan sebelumnya, rasa haus yang dibiarkan hilang dengan sendirinya dapat mengakibatkan dehidrasi berkelanjutan yang jika dibiarkan dapat menyebabkan ibadah puasa kita kurang optimal.





[1] Artikel “15 Manfaat Air Putih Bagi Kesehatan Tubuh Manusia” diakses dari http://manfaat.co.id/manfaat-air-putih
[2] Artikel “Mayoritas Remaja Alami Dehidrasi Ringan” diakses melalui http://health.kompas.com/read/2014/05/24/0856085/Mayoritas.Remaja.Alami.Dehidrasi.Ringan

Selasa, 23 September 2014

Mengenalkan Pendidikan Finansial Pada Anak

                                        

Ada sebuah pepatah yang mengatakan, seorang anak adalah cerminan dari orang tua nya. Anak cenderung cepat meniru hal-hal yang ada di sekitarnya, termasuk apa yang diajarkan oleh orang tua. Dari kecil anak akan tumbuh menjadi remaja sesuai dengan pola asuh yang diterapkan orang tua nya.

Pola finansial tidak terkecuali. Mengacu pada pengalaman pribadi penulis dan pengamatan terhadap lingkungan sekitar, orang tua yang terbiasa membelanjakan uang secara berlebihan maka akan menghasilkan anak dengan sifat serupa. Karena mengamati perilaku orang tua yang kerap menghamburkan uang, anak merasa itu adalah hal yang lazim dilakukan dan jika dibiarkan akan terbawa hingga dewasa. Tentu hal ini tidak dibenarkan. Sangat penting bagi orang tua mengajarkan kepada anak sejak kecil bagaimana memperlakukan uang dengan benar.

Mengapa edukasi finansial pada anak sejak kecil diperlukan? Ada beberapa manfaat yang juga akan dirasakan ketika anak telah tumbuh dewasa.

  1. Mengajarkan anak untuk menghargai uang. Mengamati era yang makin berkembang dewasa ini, penulis kerap melihat betapa mudahnya seorang anak meminta sesuatu kepada orang tua tanpa memikirkan apa yang akan didapatnya jika telah memiliki barang tersebut. Anak pada masa sekarang tidak sulit untuk meminta benda elektronik dan barang lain yang sebenarnya belum sesuai dengan usia mereka. Inilah mengapa menerapkan pendidikan tentang keuangan penting diajarkan pada anak sejak dini agar anak mengerti bahwa mencari uang bukan suatu hal yang mudah.
  2. Memberikan paham yang baik kepada anak mengenai makna materi. Tidak hanya pendidikan akademik dan agama, edukasi mengenai finansial juga penting untuk diketahui oleh anak sejak kecil agar anak belajar untuk berhemat dan perlahan mengelola keuangan; dimulai dari uang saku yang ia terima sehari-hari.
  3. Menanamkan tanggung jawab dan bijaksana menggunakan uang. Ini adalah poin penting yang akan dirasakan anak jika ia sudah dapat mencari uang sendiri di masa mendatang. Karena anak sudah terbiasa mendapat pedoman dari dini bagaimana mengatur uang yang dimiliki maka di masa depan anak akan berpikir dan paham jika ingin membeli suatu benda tertentu. Bahwa mendapatkan sesuatu yang diinginkan membutuhkan proses, uang tidak didapat secara instan.

Bagaimana langkah untuk mengajarkan kepada anak mengenai finansial yang baik? Berikut yang dapat diterapkan dengan anak agar mengerti uang sejak dini.

  1. Menabung. Berdasarkan pengalaman pribadi penulis, orang tua telah mengajarkan penulis menabung sejak berusia empat tahun. Kala itu mama memberikan celengan dengan bentuk lucu agar penulis dapat menyisihkan sisa uang jajan harian, yang nantinya uang itu dapat digunakan anak untuk membeli sesuatu yang ia inginkan. Hingga berusia 22 tahun sekarang ini, cara konvensional ini masih penulis terapkan karena ampuh untuk menyimpan dana.
  2. Menggolongkan apa yang dibutuhkan dan diinginkan. Jika anak merengek karena menginginkan sesuatu cobalah untuk menjelaskan perlahan kepada anak mengapa ingin barang tersebut, apa kegunaannya dan jelaskan mengenai manfaat jika membeli dan tidak membeli barang itu.
  3. Buku tabungan. Ketika masih sekolah dasar dulu, penulis mempunyai buku tabungan saku yang ditabungkan per hari kepada guru di kelas. Ini adalah cara yang efektif untuk mengajarkan anak menghemat dan mengelola keuangan.
  4. Membuat asuransi pendidikan untuk anak. Asuransi ini merupakan wujud investasi orang tua untuk anak. Ketika nanti anak sudah dewasa orang tua dapat menjelaskan manfaat asuransi tersebut, juga pilihan sekolah dan universitas yang dikehendaki oleh si anak. Salah satu nya yaitu PT Sun Life Financial Indonesia yang dengan produk nya yang inovatif telah berkiprah sejak 1995 terhadap keluarga di Indonesia.
  5. Memberikan contoh yang baik. Seperti telah dijelaskan sebelumnya, anak meniru apa yang diperbuat oleh orang tua. Biasakan untuk hati-hati dalam berbelanja, karena era sudah digital maka jelaskan kepada anak mengenai atm dan kartu kredit jika waktunya sudah memungkinkan. Hal ini untuk menghindari stigma negatif anak mengenai uang.


Berdasarkan apa yang dijelaskan diatas, dapat dibayangkan betapa pentingnya mendidik anak untuk mengelola keuangan dan mengerti tentang finansial. Selain mengajarkan anak untuk konsisten dan bijak dalam menggunakan uang, hal ini juga bermanfaat untuk masa depan anak yang menjanjikan.

P.S. Tulisan ini ditulis untuk diikutsertakan dalam Kompetisi Menulis Blog Sun Anugerah Caraka 2014 "Melek Finansial"

Jumat, 29 Agustus 2014

Air dan Lingkungan





Sesuatu yang melekat..
Sesuatu yang dirindukan..
Sesuatu yang kerap sulit dijangkau..

Sesuatu itu adalah air. Makhluk hidup cenderung memilih lapar dibandingkan haus. Manusia dapat hidup beberapa hari tanpa makanan namun tidak bisa jika tanpa air. Sudah merupakan fakta mutlak bahwa zat yang terdapat dalam tubuh manusia, 73% terdiri dari air.[1] Tanpa air, roda kehidupan di dunia ini dapat mengalami ketimpangan.

Indonesia memiliki 6% dari ketersediaan air di dunia, dengan kata lain 21% air yang ada di kawasan Asia Pasifik berada di Indonesia. Betapa beruntung bagi kita tinggal di negara yang amat kaya akan air. Kita tidak dapat mengelak bahwa Indonesia didominasi oleh perairan. Namun dengan kondisi demikian apakah berarti seluruh masyarakat Indonesia telah tercukupi kebutuhannya akan air?

Jawabannya adalah tidak. Setiap tahunnya populasi penduduk di Indonesia mengalami peningkatan, yang mengindikasikan kebutuhan akan air sebagai elemen vital dalam kehidupan sehari-hari juga melonjak signifikan. Hak atas air dan kebutuhan sanitasi bersih yang terkandung dalam Resolusi PBB 29 Juli 2010; yang mendapat dukungan penuh dari Indonesia nyatanya belum terpenuhi oleh negara. Akses warga negara terhadap air bersih menjadi momok menakutkan di tanah yang kaya akan sumber daya alam ini.

Menurut data yang dirilis oleh Bank Dunia pada tahun 2008 menunjukkan 900 juta orang di dunia tidak memiliki akses untuk memperoleh air bersih dan 2,6 miliar jiwa kesulitan menjangkau akses sanitasi yang layak. Di Indonesia sendiri, kepemilikan akses air bersih dan kebutuhan sanitasi baru dirasakan oleh 50% penduduk. Situasi diperparah dengan keberadaan Perusahaan Daerah Air Minum yang kurang layak untuk mengakomodir kebutuhan masyarakat.[2]

Fenomena krisis air bersih, ketersediaan air yang semakin menurun ditengah pertumbuhan penduduk yang meningkat disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satu yang tidak bisa diabaikan yaitu faktor manusia. Perilaku membuang sampah tidak pada tempatnya; eksploitasi sumber daya alam oleh sekelompok orang yang memiliki kepentingan dengan melebihi kapasitas yang seharusnya, sejatinya turut berkontribusi dalam merusak lingkungan dan menyebabkan penurunan kualitas lingkungan hidup sebagai tempat tinggal yang layak.

Kesadaran manusia dalam menghargai alam yang masih rendah mengakibatkan langkanya air bersih. Aktivitas banyak sekali dilakukan di sungai karena minimnya sarana sanitasi. Mencuci, kebutuhan akan hajat bahkan membuang sampah sisa rumah tangga dilakukan di sungai. Kondisi sungai di Indonesia kian buruk dengan aktivitas pabrik tidak bertanggung jawab yang mengalirkan limbah ke sungai tanpa penyaringan sehingga pencemaran semakin parah. Sungai yang tercemar tidak layak untuk dikonsumsi airnya dalam rangka memenuhi kebutuhan sehari-hari. Akibat lain, saluran sungai yang tersumbat sampah menyebabkan banjir kala intensitas hujan sedang tidak menentu.

Defisit air bersih yang banyak dialami di wilayah Indonesia; terutama paling dirasakan dampaknya di daerah terpencil yang masih tak terjamah pemerintah pusat, melahirkan fakta pahit. WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) menetapkan Indonesia sebagai negara penyumbang angka diare terbesar kedua di dunia. Diare yang sebenarnya dapat dicegah di Indonesia justru menjadi penyebab utama kematian anak berusia di bawah lima tahun. Hal itu disebabkan kebutuhan masyarakat yang mendesak akan air bersih sehingga rela menjadikan air yang tidak layak dikonsumsi sebagai kebutuhan sehari-hari bahkan sebagai air minum.

Terkait pembahasan diatas, dimana akses air bersih belum menjadi prioritas negara tidak menutup kemungkinan Indonesia akan mengalami krisis air bersih yang tak terhindarkan pada tahun 2025 mendatang.

Sebagai langkah preventif dalam menanggulangi krisis air bersih yang marak di wilayah Indonesia, tentu pemerintah harus menerapkan sejumlah solusi untuk menghadapi krisis air bersih yang tentunya berpengaruh terhadap keberlangsungan hidup masyarakat utamanya yang menetap di kawasan terpencil. Pertama, Penegakan hukum terkait perlindungan akses air bersih yang selama ini belum maksimal. Hal ini dipandang sebagai langkah penting karena kerap terjadi kasus privatisasi air yang dikepalai oleh sejumlah pihak sehingga hak untuk khalayak umum berkurang.

Kedua, meningkatkan manajemen pengelolaan air. Tak dapat dipungkiri Indonesia adalah negara agraris dimana sebagian besar warga berprofesi sebagai petani. Namun petani belum menjadi fokus utama disini, negara lebih memilih untuk memenuhi kebutuhan pangan dari luar negeri sehingga kualitas lokal terabaikan. Jika pembangunan infrastruktur penyediaan air disertai dengan pengelolaan yang optimal digalakkan tentu dapat meningkatkan penghasilan para petani dan kualitas bahan pangan meningkat.

Ketiga, revisi Undang-Undang lingkungan hidup. Penulis menganggap hal ini sebagai hal utama yang harus dipertimbangkan oleh pemerintah karena banyak pihak dapat merusak lingkungan, mengeruk kekayaan sumber daya alam, menebang hutan namun tidak diimbangi dengan hukuman yang setimpal sehingga perusakan lingkungan atas nama pembangunan berkelanjutan menjadi hal yang diperbolehkan. Padahal kerusakan lingkungan menjadi faktor yang mengakibatkan kemampuan alam menurun untuk memenuhi kualitas hidup manusia yang lebih baik.

Berangkat dari solusi yang menjadi tanggung jawab utama negara dalam memenuhi hak asasi warga negara; mencakup hak memperoleh akses air bersih dan sanitasi yang memadai tentu dibutuhkan langkah serupa dari kita sebagai makhluk hidup yang membutuhkan air dalam kehidupan.

Langkah dapat dimulai dari hal yang sederhana seperti membuang sampah pada tempatnya tanpa harus menunggu teguran atau terkena denda. Menghemat air, kurangi penggunaan air yang tidak dibutuhkan seperti membiarkan air terus mengalir ketika sedang mencuci perabotan rumah tangga. Mengurangi konsumsi botol air kemasan dapat menjadi langkah kecil membantu pemerintah untuk meminimalisir volume limbah rumah tangga yang meningkat setiap harinya.

Jika langkah tersebut dilakukan secara perlahan namun rutin; diikuti dengan kesadaran masyarakat akan pentingnya air dan perilaku kebersihan sebagai hal kongkrit memperlakukan alam dengan semestinya, maka Indonesia yang bersih dan sehat dapat terwujud.





[1] Dirilis oleh artikel ‘Fungsi dan Peran Air Bagi Kehidupan Manusia’ yang diakses melalui www.artikellingkunganhidup.com pada 7 Agustus 2014.