Jumat, 20 Juni 2014

Air Putih Layak Minum, Pure It Solusinya





Air merupakan unsur vital dalam kehidupan. Makhluk hidup tidak bisa jauh dari air; manusia membutuhkan air untuk minum, mandi, memasak, dan mengatasi tubuh dari dehidrasi. Banyak orang yang mengabaikan fakta bahwa minum air putih bermanfaat bagi kesehatan tubuh. Bahkan saya kerap menemukan orang yang cenderung malas minum air putih ditengah aktivitas yang padat.

Dilansir dari kompas.com, banyak sekali manfaat dari minum air putih yang tidak bisa kita remehkan. Air putih berperan penting dalam menjaga metabolisme tubuh dan mengatasi kekurangan cairan yang dapat mengakibatkan dehidrasi. Berikut manfaat dari banyak minum air putih dalam kehidupan sehari-hari:

Menjaga jantung. Manusia membutuhkan delapan gelas air putih per hari untuk menjaga keseimbangan cairan dalam tubuh. Banyak minum air putih dapat meminimalisir serangan jantung pada seseorang dibandingkan orang yang jarang minum air putih. Bahkan minum air putih minimal lima gelas sehari dapat mengurangi risiko terkena penyakit kanker.

Mencegah penyakit sakit kepala (pusing). Jika kelelahan karena banyaknya kegiatan kita kerap dilanda sakit kepala yang tentunya menimbulkan rasa tak nyaman. Hal ini sebenarnya dapat diatasi dengan minum air putih. Menurut para ilmuwan dari Belanda, minum air putih dapat mengurangi frekuensi orang dari menderita sakit kepala.

Meningkatkan konsentrasi. Kurang minum air putih dapat menyebabkan lemas dan berlanjut menjadi dehidrasi yang dampaknya berbeda pula pada setiap orang. Dehidrasi dapat menyebabkan konsentrasi berkurang karena kebutuhan otak tidak terpenuhi secara maksimal.

Melihat uraian diatas harus disadari betapa pentingnya kita mengonsumsi air putih agar dapat prima dalam menjalani kegiatan sehari-hari. Namun patut diingat tidak semua air layak untuk diminum karena dapat berpengaruh terhadap kesehatan tubuh. Air layak dan aman untuk diminum jika memenuhi persyaratan fisika, mikrobiologis, kimiawi dan radioaktif yang mencakup parameter tertentu.[1]

Indikator lain, air yang sehat harus jernih; tidak berwarna dan tidak berbau; tidak mengandung zat kimia yang berbahaya bagi tubuh serta tidak mengandung bakteri seperti Escheria coli yang dapat menyebabkan penyakit pada usus. Penting untuk mengetahui dengan cermat bagaimana air yang sehat untuk diminum karena terkadang setelah air direbus mendidih untuk mematikan kuman dan bakteri, air tersebut belum memenuhi standar kelayakan air yang aman untuk dikonsumsi.

Mengingat air merupakan kebutuhan yang amat esensial bagi kelangsungan hidup manusia, telah hadir Water Purifier; produk pemurni air dengan teknologi canggih yang merupakan terobosan Perusahaan Unilever pada 2010 lalu yang dikenal dengan nama Pure It. Teknologi ini sesuai dengan misi Unilever agar seluruh keluarga di Indonesia mudah mendapatkan akses air bersih.




Dengan teknologi uniknya, Pure It adalah solusi yang tepat untuk melindungi air minum keluarga dari kuman secara menyeluruh. Selain higienis, Pure It juga efisien karena tidak membutuhkan banyak ruang; cukup diletakkan diatas meja.


Keunggulan Pure It, melindungi dari kuman (dokumen pribadi)


Pure It memiliki keunggulan antara lain:
  1.    Praktis dan efisien. Tinggal tuangkan air mentah dari bagian atas kemudian akan langsung bekerja untuk menjernihkan air yang siap dan aman untuk diminum;
  2.    Hemat, karena tidak memakai listrik, gas, serta tidak perlu memasak air karena mempunyai tahap pemurnian air untuk membunuh kuman;
  3.    Telah memiliki sertifikasi yang menjamin air terlindung secara menyeluruh dari bakteri, virus sehingga aman bagi keluarga;
  4.    Memiliki teknologi Germkill Kit, yaitu mekanisme penghentian otomatis yang akan menghentikan aliran air dalam alat jika kita belum mengganti perangkat pembunuh kuman. Perangkat pembunuh kuman harus diganti jika indikator telah berubah warna menjadi merah. Teknologi yang tahan lama dan menjamin bahwa air aman untuk diminum; dan
  5.     Memiliki garansi selama satu tahun, serta harga yang ekonomis di pasaran.


Teknologi Germkill Kit yang tahan lama (dokumen pribadi)


Sudah menjelang dua tahun saya dan keluarga di rumah menggunakan teknologi pemurni air Unilever ini. Awalnya saya menggunakan dispenser dengan air isi ulang namun sering cemas kalau mau minum karena kerap timbul serpihan kotoran, mungkin berasal dari dalam galon yang kurang bersih atau dispenser yang sudah waktunya untuk diganti. Sehingga tak lama kemudian supaya lebih sehat dan terhindar dari sakit perut atau diare orangtua memutuskan untuk membeli produk Pure It yang saat itu masih dalam periode promo. Ini merupakan kelebihan lain; harga sangat terjangkau dan mudah didapat di pasaran.


Praktis dibandingkan aqua galon. I love Pure It! :) (dokumen pribadi)

Masih pikir ulang pakai Pure It?


Sistem Pure It ini juga manual. Sedikit merepotkan mungkin karena kita harus menuangkan air sedikit demi sedikit pada saringan dan menunggu hingga air sepenuhnya tersaring dan masuk dalam tangki dalam keadaan jernih. Tidak bisa menuang air sekaligus karena air akan luber; ditambah harus dipastikan air dalam tangki telah penuh sesuai dengan kapasitas penampung yaitu 9 liter. Jangan lupa mencuci saringan air jika dirasa tampak keruh atau terdapat kotoran yang tersangkut.




Awalnya saya tidak sabar karena harus menunggu amat perlahan hingga wadah filter air telah sepenuhnya menyaring air hingga tertampung dalam tangki. Namun saya telah membuktikan sendiri bahwa air yang saya minum benar-benar jernih dan tidak ada rasa dan bau yang aneh.

Saya semakin yakin Pure It adalah teknologi yang manjur untuk menjaga kualitas air tetap aman. Pure It juga begitu menghemat pengeluaran rumah tangga orangtua saya karena tidak lagi terlalu bergantung pada aqua galon. Saya menuliskan pengalaman dalam blog ini untuk berbagi bahwa Pure It ialah contoh konkrit, alternatif yang tepat untuk mengonsumsi air putih tanpa takut air yang diminum terkontaminasi bakteri yang berbahaya bagi tubuh. Semoga tulisan ini dapat menjadi perhatian banyak orang bahwa minum banyak air putih itu penting untuk kesehatan. Jangan menunggu haus baru minum banyak air putih.

Dengan demikian tidak perlu ragu untuk beralih pada teknologi Pure It karena mekanisme kerja Pure It telah memenuhi kategori pembunuh kuman yang ketat dari Environmental Protection Agency, Amerika Serikat. Pure It juga telah diuji selektif oleh lembaga ilmu pengetahuan dan kesehatan di Asia dan Eropa. Di Indonesia sendiri telah mendapat sertifikasi resmi dari UGM dan IPB.

Jadi tidak usah menunggu lagi untuk beralih menggunakan teknologi Pure It karena kesehatan sangat penting khususnya bagi anggota keluarga. Lepaskan dahagamu dengan Pure It!





PS: artikel ini ditulis dalam rangka mengikuti Kontes Blog Detik Pure It "Syarat Air Minum yang Layak Dikonsumsi". Foto yang tertera diatas diambil dari google serta dokumen pribadi.





[1] Merupakan pasal 3 butir 1 Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 492/MENKES/PER/IV/2010 mengenai Persyaratan Kualitas Air Minum. Selengkapnya tercantum dalam http://pppl.depkes.go.id/_asset/_regulasi/53_Permenkes%20492.pdf

Kamis, 24 April 2014

Move On dalam Berwisata



Memasuki 2014, semakin banyak orang yang hobi berwisata. Selain untuk melepas penat dari rutinitas sehari-hari, melakukan perjalanan telah bertransformasi menjadi gaya hidup. Perjalanan ke sebuah destinasi baru tidak lagi mengenal status sosial, bahkan orang yang sibuk berkarier dan ibu rumah tangga pun menyisihkan waktunya untuk berlibur ditengah kesibukan. Pada 2012 lalu, jumlah perjalanan di dunia mencapai satu miliar orang dan diperkirakan akan terus meningkat secara signifikan.

Fakta diatas membuktikan bahwa pariwisata merupakan sektor yang amat vital yang kebal terhadap krisis. Ditengah gejolak ekonomi yang melanda lingkup global, tidak mempengaruhi alur masyarakat dunia termasuk Indonesia untuk melakukan perjalanan sebagai bagian dari agenda. Banyaknya informasi yang dapat diakses di internet, orang-orang semakin banyak yang menuliskan pengalaman perjalanan di blog dan media sosial lainnya, memberikan kemudahan bagi orang yang masih pemula dalam melakukan perjalanan.

Di Indonesia sendiri, pariwisata juga mengalami perkembangan yang menakjubkan. Meskipun Indonesia sedang dihadapkan pada permasalahan sosial; seperti kesenjangan pendidikan, akses terhadap fasilitas kesehatan, pertumbuhan orang miskin dan kawasan kumuh; namun melakukan perjalanan di Indonesia baik sendiri maupun dengan rombongan telah menjadi trend yang sedang menjamur di berbagai kalangan usia. Tidak terkecuali kaum muda yang di rentang usianya haus akan tantangan dan pengalaman hidup yang belum tentu bisa didapat di lembaga pendidikan resmi (bangku sekolah).

Tidak hanya pejalan domestik yang giat berpelesir, semakin banyaknya wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Indonesia membuat pemerintah kita banyak berbenah dalam segala aspek. Hal ini didukung dengan kemudahan akses transportasi dimana harga tiket semakin mudah dicapai segala kalangan.

Bahkan dalam situs resmi Portal Nasional RI, Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menyatakan bahwa pertumbuhan industri pariwisata di Indonesia pada tahun 2014 mencapai 9,39%; lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Angka tersebut melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang hanya 5,7%.

Sektor pariwisata juga menempati urutan keempat penyumbang devisa negara terbesar pada tahun 2013. Hal ini membuktikan bahwa sektor pariwisata memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi serta pemasukan produk domestik bruto negara, walaupun dalam beberapa hal terdapat sektor yang terus dalam proses penggarapan; misalnya dalam hal infrastruktur, kebersihan dan kesehatan tempat wisata tujuan.

Permasalahan Pariwisata Indonesia
Walaupun sektor pariwisata Indonesia masih tahan terhadap krisis ekonomi global yang melanda sejumlah negara, tidak dapat ditampik bahwa pariwisata Indonesia menghadapi sejumlah masalah yang jika tidak ditanggapi tentunya dapat berpengaruh terhadap ekonomi Indonesia kedepannya.

Pertama, kesenjangan sosial. Permasalahan ini dapat dilihat di sejumlah destinasi wisata yang sudah terbuka terhadap keberadaan turis. Bali misalnya yang telah menjadi primadona pariwisata di mata dunia. Hanya sebagian daerah yang ekonominya tumbuh karena geliat turis (Kuta, Legian) sementara di Bali Selatan penggarapan pariwisata masih kurang sehingga pembangunan tidak merata. Banyak orang yang masih berada dalam jurang kemiskinan karena belum tersentuh aktivitas pariwisata.

Tentunya hal ini membutuhkan korelasi yang baik antara pemerintah pusat dan daerah setempat supaya gejolak pariwisata dapat dirasakan oleh masyarakat setempat, tidak hanya menguntungkan kaum pendatang. Alangkah baiknya pengelolaan destinasi wisata juga melibatkan masyarakat lokal dalam hal pengadaan lapangan pekerjaan sehingga tidak menimbulkan ketimpangan yang melebar antara warga Indonesia sendiri dan warga negara asing yang membuka usaha disana.

PS. Bukan hanya sepasang kekasih yang baru putus kok yang bisa move on. Indonesia sebagai negara yang besar pasti juga bisa!:) #DompetDhuafa #IndonesiaMoveOn

Rabu, 23 April 2014

Yuk #PergiDulu ke Resort World Sentosa

Aku percaya setiap orang pasti mengalami momen 'pertama kali', dan momen itu datangnya bisa dari siapa aja dan dimana aja. Karena traveling adalah passion terdalam aku, aku selalu pegang teguh prinsip itu. Oh ya dan ada lagi; kalau bisa murah kenapa harus bayar mahal? kalau bisa gratis kenapa mesti bayar? Siapa sih yang gak mau jalan-jalan dengan murah apalagi gratis? Belum ketemu orang kayak gitu sih sejauh ini :)

Adalah PergiDulu, sepasang suami istri WNI-Aussie yang doyan berkelana. Mereka salah satu inspirasi aku untuk selalu berani mencoba hal yang baru dan gak takut untuk keluar dari zona nyaman. Cerita perjalanan mereka gak pernah gagal bikin kaki aku gatel pengin packing! (blog nya bisa dilihat di sini). Belum lama ini mereka ngadain kuis yang cukup menggiurkan: bisa pergi bareng mereka GRATIS ke Singapura! Wow! (link lomba bisa klik di sini). Aku gak buang kesempatan, secara kalau sampai kepilih satu list ku bisa tercoret dari daftar: bisa menginjak Bandara Changi untuk pertama kalinya. Yes gak munafik, aku belum pernah beranjak ke luar negeri. Siapa tahu kalau kepilih nanti bisa ketularan kak Susan dan suaminya jalan-jalan keliling dunia sama belahan jiwa (duileh). Paspor hijauku belum secanggih kak Susan Poskitt yang cap imigrasinya udah berderet ;)

Destinasi tujuan yang bisa didatangi bareng mereka itu namanya Resort World Sentosa, disana banyak banget zona permainan dan edukasi menarik yang sepertinya sih gak hanya bikin girang anak-anak aja sih tapi aku yakin dewasa juga demen (buka link ini , banyak yang menarik untuk dikunjungi dan buat spot foto narsis juga gak rugi huehehehe).

Karena aku sayang bangeett sama hewan destinasi yang bakal aku kunjungin di Resort World Sentosa itu pastinya Dolphin Interaction Programmes. Daripada lihat lumba-lumba menderita di panggung sirkus, aku lebih pilih berkomunikasi dengan hewan gemesin itu di tangan ahlinya. Gak akan ada yang nolak bisa seharian sama lumba-lumba, berenang dengan mereka, ditengah panasnya langit tropis pasti seger banget yah bisa main bareng lumba-lumba hidung botol di laguna biru yang jernih. (bayanginnya aja udah asyik banget)

Lumba-lumba hidung botol yang menggemaskan banget!

Habis itu pengin senang-senang juga di atraksi S.E.A Aquarium sambil nambah wawasan tentang sejarah maritime Asia di The Maritime Experiential Museum. Seru banget pasti lihat situs artefak bersejarah, menyaksikan replika kapal di 'dermaga' (kan gak mungkin juga menyelam langsung nyari di dalam lautan jadi di museum juga pasti bikin takjub kan hehe). Gak lupa juga pastinya foto seru dengan background akuarium terbesar di dunia buat oleh-oleh cerita ke orang terdekat hehe. Kayaknya buat orang Indonesia foto-foto pas pelesir emang gak boleh kelewatan ya. Lelah jalan-jalan di Resort World Sentosa gak akan nolak juga nyobain kuliner Singapura yang enak-enak, makan di restoran berkualitas ditemenin pemandangan hewan laut yang lucu-lucu. Aku juga gak akan buang kesempatan untuk lihat Pameran Perayaan Paskah yang dihelat sampai tanggal 31 Mei. Pasti lucu banget foto bareng minion berbagai karakter ;)

Jadi teman-teman yang mau ke Resort World Sentosa bareng couple traveler PergiDulu kayak aku yuk ikutan di sini jangan sampai kelewatan. Goodluck all partisipant!

PS: Gambar diambil dari website resmi Resort World Sentosa Singapore

Jumat, 04 April 2014

Perempuan Layak Menjadi Pemimpin




Banyak pendapat yang mengatakan bahwa laki-laki lebih kuat daripada perempuan, baik dalam segi fisik maupun jika dilihat dari beragam aspek. Opini ini menimbulkan masalah yaitu kesetaraan gender yang menjadi perhatian khusus di seluruh dunia. Presentase ketimpangan gender di dunia amat memprihatinkan. Menurut data yang dirilis oleh Forum Ekonomi Dunia, pada tahun 2013 Indonesia berada di urutan ke-95 dari 136 negara dilihat dari aspek kesenjangan gender.[1] Dalam data tersebut, yang paling signifikan adalah bidang politik.

Sebagai negara yang menerapkan demokrasi, tak lama lagi Indonesia akan kembali menghelat ‘pesta’ demokrasi yang akan menjadi penentu bagaimana nasib Indonesia 5 tahun mendatang. Dengan antusias, partai politik mengajukan calon pemimpin mereka yang dinilai dapat memajukan Indonesia. Berlomba-lomba mereka mengerahkan kekuatan untuk meraih simpati masyarakat. Dengan serentet masalah yang masih merundung Indonesia; kemiskinan, ketimpangan sosial, korupsi yang merajalela tentunya rakyat Indonesia berharap akan tampil sosok pemimpin yang nantinya akan menepati janjinya untuk membuat Indonesia menjadi lebih baik.

Yang menarik, pada pemilihan umum tahun 2014 ini semakin terlihat banyaknya perempuan yang maju menampilkan visi dan misinya memimpin Indonesia. Slogan yang menyatakan bahwa ‘politik itu Cuma untuk laki-laki’ kian memudar karena perempuan semakin berani menonjolkan dirinya. Ditambah dengan persetujuan Mahkamah Konstitusi akan pengujian Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2012 mengenai Pemilu Anggota DPR, DPD dan DPRD yang memerintahkan Komisi Pemilihan Umum untuk mengedepankan calon legislatif perempuan jika memperoleh suara yang sama dengan calon legislatif laki-laki. Walaupun keputusan ini baru akan berlaku pada pemilu 2019 nanti dan banyak menimbulkan kontroversi dari pihak tertentu namun keputusan ini dianggap sebagai peluang besar bagi perempuan untuk berpartisipasi dalam dunia politik. Dengan demikian dominasi kaum laki-laki di ranah politik dapat seimbang dengan kehadiran calon legislatif perempuan.

Menurut saya, ada beberapa alasan logis mengapa perempuan layak untuk berkecimpung dalam dunia politik. Pertama, naluri seorang perempuan yang lembut yang akan membantu meminimalisir konflik yang berkepanjangan. Seringkali laki-laki menggunakan akal rasional dalam menyelesaikan permasalahan sehingga tak jarang masalah tersebut berujung pada kekerasan, tidak menemukan jalan keluar yang diharapkan semula. Berbeda dengan perempuan yang melihat sudut pandang masalah dengan perasaan yang membuat perempuan dapat menjadi penengah yang efektif untuk mencegah masalah berlanjut kedalam skala yang lebih besar.

Kedua, tidak semua permasalahan mampu diselesaikan oleh laki-laki. Saat ini diskriminasi terhadap perempuan di tempat umum, pelecehan seksual, kekerasan dalam rumah tangga, penganiayaan terhadap anak. Mayoritas permasalahan tersebut menimpa perempuan. Sering saya temui dalam sebuah keluarga, anak laki-laki mendapatkan prioritas utama dibandingkan anak perempuan. Pelecehan seksual marak pada perempuan karena steororipe perempuan adalah makhluk yang lemah sudah melekat sedemikian rupa.

Permasalahan tersebut dalam banyak kasus melibatkan perempuan yang pernah menjadi survivor untuk menjadi penyembuh bagi perempuan lainnya yang menjadi korban. Perangai perempuan yang lebih sabar dan peka dalam menghadapi permasalahan yang ada membuat perempuan menurutku lebih unggul dalam menyelesaikan permasalahan yang berhubungan dengan aspek sosial.

Dengan pemilu yang semakin dekat, ada harapan semakin banyak perempuan yang unjuk diri merambah dunia politik supaya tercapai keseimbangan dalam hal gender khususnya aspek politik, dan permasalahan yang berkaitan dengan perempuan dapat menjadi fokus utama karena dengan adanya perempuan yang menempati kursi politik tentunya terdapat wadah yang dapat membela hak dan aspirasi perempuan yang selama ini cenderung terabaikan karena ‘kalah suara’.

Saya mendapati kian banyak bermunculan pemimpin perempuan yang terbukti tidak hanya mengutamakan penampilan saja, namun benar-benar tulus ingin memperbaiki kota dan rakyat yang dipimpinnya. Salah satunya yaitu Tri Rismaharini, wanita pertama yang menjadi walikota Surabaya pada tahun 2010. Ibu Risma berhasil mengubah kota Surabaya menjadi bersih dan tercipta lingkungan yang asri. Berkat kepemimpinannya, Surabaya meraih Piala Adipura pada tahun 2011 dalam kategori kota metropolitan. Selain itu, Ibu Risma masuk dalam daftar walikota terbaik di dunia karena karakternya yang tegas dan dekat dengan masyarakat.

Karena sosoknya yang tegas itulah banyak pejabat Surabaya yang berusaha menggeser Ibu Risma dari posisinya sebagai walikota. Ibu Risma semakin hangat diperbincangkan karena munculnya rumor keinginannya ingin mengundurkan diri dari jabatan karena banyaknya tekanan dari sekitar. Rumor yang kontroversial ini memancing reaksi berbagai pihak, munculnya petisi #SaveRisma yang menginginkan agar Ibu Risma tetap tangguh apapun kondisi yang dihadapinya di lingkungan politik.

Tri Rismaharini hanya satu dari segelintir wanita inspiratif di dunia perpolitikan Indonesia yang bermunculan. Tidak hanya menjadi penggembira dalam semarak demokrasi namun berlandaskan keinginan untuk membuat perubahan, mengabdi untuk rakyat. Saya yakin jika perempuan diberikan kesempatan lebih besar untuk mendalami dunia politik, tentunya dengan pendidikan mengenai politik yang mumpuni dapat mendukung munculnya kader perempuan Indonesia yang berkualitas. Pemilu 9 April 2014 mendatang dapat menjadi titik awal bahwa perempuan juga mampu mendorong adanya perubahan ke arah yang lebih baik. Karena perubahan adalah sesuatu yang diciptakan, bukan ditunggu.






[1] Sumber: http://www.tribunnews.com/nasional/2014/03/08 artikel Kesetaraan Gender Mengalami Sedikit Perbaikan di Indonesia.

Sabtu, 29 Maret 2014

Harimau Sumatera Yang Tersisihkan



“Ketika kita menghancurkan sesuatu yang diciptakan oleh alam, kita menyebutnya proses. -Ed Begley Jr.”




          Ketika mengetahui informasi mengenai lomba blog yang diadakan oleh salah satu organisasi non profit di Indonesia, aku tertegun dan bertanya pada diri sendiri: sudahkah kita peduli pada bumi yang sudah memberi begitu banyak kehidupan pada kita? Apakah kita telah memperlakukan lingkungan sebagaimana mestinya? Kembali pada masing-masing individu bagaimana pertanyaan tersebut dapat terjawab.
          Merupakan rahasia umum jika Indonesia dijuluki sebagai negara yang kaya akan keragaman alamnya. Apa yang ada disini belum tentu tersedia di belahan dunia lain. Wisatawan asing dari berbagai penjuru dunia kagum akan keindahan yang disajikan Indonesia. Sebagai warga negara, terselip rasa bangga. Namun di sisi lain fakta tersebut sungguh ironis mengingat apa yang terjadi di lapangan. Kekayaan yang terhampar perlahan tertutup oleh kebutuhan manusia yang dilapisi keserakahan semata. Perbuatan tersebut tidak diimbangi dengan mengembalikan apa yang sudah kita ambil dari bumi.
          Rusaknya hutan atas nama pembangunan mengorbankan flora dan fauna yang semula hidup damai di alam liar. Kehidupan mereka harus terusik dengan tangan panas manusia. Salah satu contoh yaitu harimau sumatera. Gelar raja hutan yang tersampir padanya kini terkalahkan dengan kawanan buldoser manusia.


Hutan musnah
Selamatkan si raja hutan sebelum terlambat (sumber foto: www.greenpeace.org )


          Berdasarkan data website resmi WWF Indonesia, jumlah populasi harimau sumatera di alam bebas kini hanya berkisar 400 ekor. Sungguh kenyataan yang menyedihkan. Rumah mereka tergusur oleh peralihan fungsi hutan, mereka kelaparan sehingga jalan akhir yaitu memasuki pemukiman manusia. Disinilah terjadi konflik dengan manusia, mereka dibunuh dan organ tubuhnya dijual secara ilegal untuk pengobatan tradisional. Melihat kondisi tersebut rasanya tak adil jika hutan masih digadang-gadang sebagai paru-paru dunia. Napas mereka telah dikuras oleh penghuni dominan bumi ini, manusia.
          Di sisi lain, aku kembali terkejut dengan berita yang beredar di media nasional. Dikutip dari detik.com, pemangku kepentingan negeri ini sepakat untuk bekerjasama dalam hal pengembangbiakkan harimau sumatera dengan salah satu kebun binatang di Jerman, Eropa Barat. Sepasang harimau sumatera dikirimkan kesana untuk diteliti demi konservasi dan melindungi hewan tersebut dari ambang kepunahan yang semakin dekat.
          Aku sedih. Seperti biasa, pihak asing yang lebih berkonsentrasi dengan kehidupan binatang liar. Harimau yang habitatnya di Sumatera hidupnya lebih terjamin di daratan Eropa. Indonesia seperti kehilangan taring merawat harta yang dimiliki. Pembalakan hutan yang sudah melampaui batas mengancam habitat mereka dan jika dibiarkan, sepuluh tahun mendatang hewan gagah tersebut hanya akan menjadi cerita bagi generasi penerus.
          Timbul secercah harapan di hatiku. Kelak akan muncul sosok baru pemimpin Indonesia yang terbuka matanya akan pentingnya isu lingkungan. Pemimpin harus mengelola kebijakan pemberdayaan kekayaan alam Indonesia dengan bijaksana dimana indikator ekonomi seimbang dengan kelestarian lingkungan yang berkelanjutan. Keyakinan dalam hatiku begitu kuat bahwa pemilih Indonesia sudah cerdas memilih pemimpin yang memasukkan isu lingkungan sebagai fokus utama memajukan Indonesia.
          Kita semua belum terlambat untuk menyelamatkan keberadaan harimau sumatera. Karena upaya konservasi harimau sumatera, serta satwa liar lainnya tidak hanya menjadi tugas WWF Indonesia namun menjadi tanggung jawab kita semua.

PS: Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog WWF Indonesia dengan tema Blogger Peduli Lingkungan. #IngatLingkungan

Rabu, 26 Februari 2014

Pulang, Perhentian Sementara

“Perjalanan adalah belajar melihat dunia luar, belajar untuk melihat ke dalam diri. Pulang memang adalah jalan yang harus dijalani semua pejalan. Dari titik nol kita berangkat, kepada titik nol kita kembali.”

            Untaian kata indah dari salah satu penulis perjalanan favoritku yang telah melangkah jauh. Sesorang yang menginspirasiku agar tidak takut mengintip jendela dunia. Bahwa apa yang ada di luar sana tidak selalu menakutkan. Karena bagiku takut ialah jika kita direngkuh oleh keraguan diri sendiri untuk melangkah, mereguk pengalaman yang kita dapat dari apa yang dinamakan perjalanan. Walaupun ketika kita telah berjalan, sejauh apa pun, kita akan melalui suatu proses yang kadang ditakuti namun sekaligus dinanti oleh pejalan, yaitu pulang.
            Aku adalah seorang yang selalu haus akan rasa ingin tahu. Kaki ini kerap tak betah jika menetap di suatu tempat terlalu lama. Bagiku rumah adalah tempat singgah yang selalu menerima kita kemanapun kita telah pergi dan akan kembali. Aku layaknya bocah kecil yang diberi mainan baru ketika sedang berkemas. Ya, aku selalu diliputi rasa bahagia jika sedang berkemas, merencanakan perjalanan, kemana pun, sejauh apa pun, selama aku bisa mengisi tas ransel yang kosong ini dengan guru baru yang kujumpai di jalan. Pengalaman. Aku akan terus melangkah. Manusia terlahir di dunia ini untuk menjelajah, bukan?
            Perjalanan selalu membuatku bergairah. Dengan tas ransel menempel di punggung, aku pergi ke suatu tempat yang semula asing bagiku. Kutinggalkan seluruh zona nyamanku di rumah. Kusiapkan hati ini untuk membuka diri terhadap apa pun yang akan kutemui di jalan nanti. Kepalaku penuh dengan pertanyaan akan apa yang ada di luar sana. Bertemu dengan orang asing, memanjakan indera perasa ini dengan makanan yang sama sekali baru pasti akan menyenangkan. Berbagai rencana memenuhi pikiranku.
            Aku seakan tak peduli dengan pembicaraan orang di sekitar yang kerap mengusik cita-citaku untuk melihat dunia. “untuk apa sih? Pelesiran itu buang uang. Capek di jalan. Memang dapat apa dari jalan-jalan?” perkataan itu tak lantas membuatku berpikir untuk melakukan sebuah pembuktian. Pernyataan dan pertanyaan akan meluncur karena apa yang kita cintai, belum tentu disukai oleh orang lain. Untuk melakukan perjalanan kita tidak diwajibkan untuk menunggu persetujuan dari orang lain.
          Aku berjalan melihat dunia bukan untuk menunjukkan kepada orang-orang bahwa aku telah mencapai suatu tempat. Aku melangkah karena bagiku berjalan adalah candu. Aku jatuh cinta dengan proses yang dilaluinya. Membuat rencana. Mengumpulkan informasi. Melangkah. Mewujudkan impian. Sampai ketika pulang. Pulang untuk kembali merajut rasa ingin tahu dan keinginan ini untuk terus melangkah. Pulang bukan berarti menyerah. Pulang hanyalah berhenti sementara, mengistirahatkan langkah.
            Karena perjalanan adalah rumah untukku. Ketika aku didera rasa lelah dan rasa ingin tahuku menipis untuk sementara waktu, saat itulah aku akan bertemu dengan rumah. Walau pun bukan tempat tinggal permanen, namun ketika dalam perjalanan hati kita tertambat maka aku sudah bertemu dengan rumah. Bandara yang sibuk menjadi tempat untuk pulang dan pergi beragam manusia, stasiun, rumah penduduk yang menyajikan makanan di rumah bahkan pasir pantai layaknya tepung yang memeluk kakiku bagiku adalah rumah. Tempat yang seakan mengobati kerinduan pada rumah yang selalu setia menanti, sekaligus tempat yang akan mendorongku untuk tidak ragu melangkah. Bercakap dengan warga lokal yang kutemui bahkan dapat mengingatkan aku untuk tak lupa pulang. Menikmati ciptaan Tuhan di luar sana yang menunggu untuk dilihat, dilestarikan, dan dicicipi dengan panca indera oleh kita. Manusia.
            Ah. Ketika menulis ini pun aku dihinggapi kerinduan yang membuncah untuk kembali menjejakkan langkah. Keluarga di rumah sudah maklum aku kerap melirik penuh rindu pada ransel kesayangan yang teronggok di pojokan kamar. Tak sabar rasanya aku menemukan kejutan baru yang selama ini hanya kutemui didalam buku. Buku adalah jendela dunia. Jendela awal untuk melihat dunia yang sebenarnya.
            Jangan bertanya padaku. Jangan menegaskan kepastian yang malah membuatku jengah. Ya. Jika ingin tahu, aku bukanlah backpacker, flashpacker, turis, apa pun itu. aku berjalan bukan untuk pencapaian gelar. Aku menyayangi ranselku. Aku bahagia jika kaki ini masih bersemangat untuk berjalan, meninggalkan jejak, jauh dari rumah. Aku adalah seorang biasa yang sedang dipenuhi hasrat besar untuk melangkah. Melangkah untuk berangkat, melangkah untuk pulang.       
              Jangan menatapku dengan rasa ingin tahu dilanjutkan pertanyaan, “sudah berapa negara yang kamu kunjungi?”. Sudah pasti aku tak akan menjawabnya. Karena perjalanan yang kulakukan bukan perlombaan nominal tempat yang sudah dikunjungi. Aku berjalan keluar, menghirup udara segar untuk mengenali siapa diriku. Untuk merekam potongan cerita yang dapat menjadi memori indah nantinya. Mencecap angin di tempat asing, tersesat dalam kebebasan adalah kebahagiaan untukku. Aku akan pulang tidak dengan kantong oleh-oleh. Aku akan pulang dengan deretan foto dan segudang cerita agar dapat menginspirasi untuk melakukan perjalanan. Pulang, bagiku hanyalah berhenti sementara untuk menemui kembali jejak yang masih tercecer di suatu tempat.

Menjejakkan langkah, pergi dan kembali..

PS: Tulisan ini dibuat dalam rangka mengikuti #NubieTraveller Monthly Blog Competition: “Pulang” @TravellersID

Jumat, 20 Desember 2013

Islam dan Eropa: 99 Cahaya di Langit Eropa



film 99 Cahaya di Langit Eropa

Sutradara: Guntur Soeharjanto
Produksi: Maxima Pictures
Cast: Acha Septriasa, Abimana, Raline Shah, Nino Fernandez and others

Film ini merupakan kisah nyata bagaimana sepasang mahasiswa Indonesia beradaptasi di Eropa, dimana Islam bukan mayoritas. Diangkat dari novel mengagumkan karya Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra, penonton akan disuguhi pemanndangan yang menakjubkan di Eropa. Eropa yang lebih dari sekadar Menara Eiffel yang memancarkan keindahannya di malam hari. Eropa memiliki lebih dari itu...

Film yang mengambil setting lokasi 4 negara di Eropa ini dibuka dengan potret kota Wina, Austria yang menjadi tempat tinggal Hanum (diperankan oleh Acha) selama mendampingi suaminya Rangga (diperankan oleh Abimana) menempuh pendidikan magister di negeri yang terkenal dengan musik klasik tersebut. Hanum memanfaatkan kesempatan yang ada untuk menjelajahi keindahan Eropa, juga mempelajari Bahasa Jerman untuk kemudahan berkomunikasi dengan kehidupan lokal.

Kursus Bahasa Jerman yang mengawali pertemuan Hanum dengan Fatma (diperankan oleh Raline Shah), seorang imigran Turki yang tinggal bersama anaknya yaitu Ayse. Dari Fatma, Hanum mengetahui bagaimana kehidupan orang muslim di Eropa yang teramat sulit mencari pekerjaan karena identitas agama (jilbab). Setiap waktu senggang Fatma mengajak Hanum berkeliling untuk menapaki rekam jejak Islam di Eropa yang masih menjadi misteri, salah satunya Bukit Kahlenberg yang amat memukau yang ternyata menyimpan sejarah menarik tentang Islam.

Film ini menggambarkan dengan gamblang kehidupan Rangga sebagai mahasiswa. Bahwa menjadi minoritas di negeri orang bukanlah perkara mudah. Terlebih saat Rangga harus memilih melaksanakan ibadah salat jumat yang berbarengan dengan ujian di kampusnya. Disini kesetiaan dan keteguhan iman sangat diuji. Penonton juga diuji dengan emosi dan gelak tawa akan karakter Stefan yang berperan sebagai atheis, yang terus 'menyerang' Rangga dengan pertanyaan dan opini mengenai keberadaan Tuhan. Perdebatan dengan Khan (diperankan oleh Alex Abbad) yang adalah muslim fanatik menarik untuk dikaji. Secara keseluruhan, film ini dikemas dengan menyenangkan tanpa menghilangkan pesan yang ingin disampaikan pada penonton.

Yang menarik menurutku adalah ketika Rangga mengumandangkan azan di Menara Eiffel. Masih terbayang hingga kini sekaligus membuat merinding, walaupun termasuk adegan yang cukup kontroversial dan berani mengingat gaung Islamophobia yang kental di Eropa terutama Prancis. Adegan salat jumat di salah satu masjid juga berkesan, yang kudengar dari trivia yang beredar bahwa adegan ini hanya diambil sekali karena sulit untuk diulang lagi.

Menurut opiniku film ini sungguh indah. Aku mendapatkan paket lengkap karena disamping dapat mengenal agamaku lebih baik lagi yang mencakup berbagai sudut pandang, mata ini dimanjakan dengan frame Eropa yang cantik dengan segala kejutan dan intrik dalam setiap sudutnya. Perkenalan Hanum dengan Marion (diperankan Dewi Sandra sebagai mualaf Prancis) menyentakku dan membuatku semakin bangga dengan keindahan Islam.

Namun menurutku terdapat adegan yang kurang dijelaskan secara rinci salah satunya adegan warga Austria yang berdiskusi mengenai roti Croissant. Dalam novel ditulis; Bule bercerita pada temannya bahwa roti croissant berasal dari sejarah keberhasilan pasukan Eropa mengalahkan invasi pasukan Kesultanan Ottoman Turki. Sehingga mereka membuat roti croissant berbentuk bulan sabit, dimana bulan sabit dulunya merupakan simbol kekuatan Kaisar Islam dibawah tampuk kekuasaan Turki.

Di film hanya dikatakan roti croissant yang dikonsumsi sebagai makanan sehari-hari di Eropa berbentuk bulan sabit karena berasal dari lambang bendera Turki. Jika penonton hanya menyimak sekilas mungkin tidak terlalu dipusingkan namun untuk penghobi film yang memperhatikan setiap film yang ditontonnya dengan mendetail hal ini dapat menimbulkan pertanyaan lanjutan. Ditambah ketika tiba-tiba Hanum meledak emosinya karena menganggap bule Austria tersebut menginjak-injak agama Islam padahal yang dibicarakan adalah bendera Turki. Terasa aneh dan membingungkan (kecuali yang udah baca novelnya sebelum nonton film).

Novel edisi cover film

Dibalik kelebihan dan kekurangan film ini amat menyentuh. Mengandung banyak pelajaran bagaimana kita mengenal agama Islam secara lebih mendalam, mengajarkan supaya kita dapat menjadi agen muslim yang baik di negeri asing baik dalam perkataan maupun perbuatan. Film ini ibarat oase ditengah gempuran film produksi barat di layar lebar. Bahwa ketika kita tengah berada di negara yang asing, jauh dari rumah, saat itulah kita merindukan hangatnya negeri sendiri.

Hanum Rais dan Rangga Almahendra memotivasi untuk tidak takut melihat dunia, jangan ragu melangkah, namun tetap tidak melupakan identitas asal. Selepas menikmati film ini, aku bersyukur tinggal di Indonesia dimana aku dapat menjalankan ibadah tanpa kesulitan yang berarti. Suatu hari aku akan menapakkan kaki ini di benua Eropa untuk menemukan sinar Islam lainnya.

Film yang dibintangi artis kondang Indonesia

Keindahan Bukit Kahlenberg yang 'merengkuh' Wina

Adegan yang sungguh menggugah batin

Di antara pertemanan dan perdebatan keyakinan

Sukses untuk Hanum Rais dan Rangga Almahendra yang berhasil menghidupkan dunia perfilman Indonesia dan menginspirasi penonton untuk menjadi muslim yang semakin baik. Semoga Indonesia terus menjadi tuan rumah di negerinya sendiri!


Lihat Trailer Film 99 Cahaya di Langit Eropa: